Jumat, 02 Februari 2018

Review Film Dilan 1990


Habis nonton film Dilan aku nggak sabar banget pengen langsung bikin reviewnya. Padahal awalnya aku nggak begitu tertarik mau nonton film ini. Takut kecewa karena nggak sesuai dengan ekspektasi dari novelnya. Aku termasuk 1 dari sekian banyak orang yang kecewa ketika pertama kali tau Dilan akan diperankan oleh Iqbal. Jujur, sosok Iqbal beda dari bayanganku tentang Dilan selama ini. Wajahnya terlalu cute dan santun untuk memerankan karakter Dilan yang notabene seorang ketua geng motor. Belum lagi label boyband ‘Coboy Junior’ yang masih melekat kuat di dirinya. Tapi begitu aku ngelihat Iqbal dan Vanessa sebuah talkshow, aku mulai berubah pikiran. Keduanya emang cocok banget untuk memerankan sepasang kekasih, chemistry keduanya juga udah kelihatan di talkshow tersebut. Dan pastinya Pidi
Baiq sebagai penulis cerita punya alasan tersendiri kenapa ia sampai memilih Iqbal, bukan yang lain.

Tapi aku kembali kecewa setelah melihat triler yang sudah dirilis. Iqbal kelihatan kurang menjiwai karakter Dilan. Beberapa dialog yang diucapkannya terasa kaku. Kayak lagi baca text, nggak ada nyawanya. Itulah yang bikin aku nggak terlalu kepengen  nonton film Dilan. Takut kecewa. Apalagi aku masih trauma gara-gara film zonk yang kutonton sebelumnya. (Baca: http://isykasyukriya.blogspot.co.id/2018/01/review-ayat-ayat-cinta-2-rip-logic.html )

Berawal dari acara keluyuran di siang bolong. Ceritanya sih pengen cari suasana baru buat nulis, biar nggak jenuh di kosan terus eh ternyata malah enggak bisa konsen nulis. Banyak banget anak SMA keluar masuk gedung bioskop (Kebetulan letaknya deket dengan tempatku nongkrong saat itu). Banyak diantara mereka yang asyik ngomongin Dilan. Lama-lama aku terhasut juga, dan langsung beli tiketnya.

Trus gimana setelah nonton? Apa film ini bener-bener gagal? Nggak sesuai ekspektasi? Jawabannya NO! Malahan aku lebih bisa menikmati film daripada novelnya. Selain karena bisa lihat chemistry Iqbal dan Vanessa, film ini juga didukung oleh visual dan sound efek yang oke. Sangat membantu untuk membangun suasana. Nuansa 90an cukup bisa kurasakan. Mulai dari rumah-rumah lawas, perabotan, style fashion hingga detail-detail seperti kado yang dibungkus dengan koran, coklat dengan merk jadul, angkot yang tulisannya diganti ala-ala 90an, jalanan Bandung yang masih sepi. Detail-detail kayak gitu yang bikin aku terkesan, dan langsung nostalgia ke jaman kecil dulu. Salut deh sama team produksinya. Enggak mudah loh, menyulap kota Bandung yang modern ini menjadi ala-ala 90an.


Untuk peran Dilan, seperti dugaanku dialog-dialog yang diucapkan masih terdengar kurang natural. Tapi emang nggak mudah sih memerankan Dilan. Di novel kan juga memang seperti itu gaya bahasanya Dilan, baku, tidak seperti bahasa yang digunakan sehari-hari. Kecuali kalau gaya bahasanya sedikit diubah, agar bisa lebih luwes untuk diucapkan. Tapi resikonya, feel dari gombalan-gombalan ajaib Dilan mungkin nggak kan terasa sekuat di novel. Meski begitu, aku cukup surpised ngelihat beberapa adegan seperti ketika Dilan berantem dan marah. Iqbal cukup berhasil keluar dari dari image cute yang selama ini membuat banyak orang khawatir. Aku juga suka banget ketika beberapa kali Iqbal nyeletuk dengan bahasa Sunda. Lebih natural dan kelihatan ekspresinya dibanding ketika sedang ngegombal. Apalagi ketika lomba cerdas cermat. Itu asalah satu adegan favoritku. Di situ aku bisa ngelihat kombinasi unik dari karakter seorang Dilan yang bandel, lucu sekaligus charming (Dan senyumnya Iqbal itu loh bikin pengen nyubit).


Untuk karakter Milea, aku nggak kan banyak ngebahas. Aku yakin sebagian besar dari kita pasti setuju Vanessa sangat cocok memerankan tokoh Milea. Milea ini adalah gadis cantik dan kuat. Vannesa mampu memerankannya dengan pas. Aktingnya nggak lebay (Akan jauh berbeda dengan aku seandainya dianugrahi kecantikan seperti dia, mungkin akan sedikit overacting)


O iya, ada walikota Bandung tercinta, loh, pak Ridwan Kamil ikut berperan sebagai guru di sini. Sayang banget kemunculannya cuma beberapa menit doang sebagai cameo. Padahal aku masih pengen ngelihat akting kocak beliau lebih banyak lagi.

Dari segi cerita, sebenarnya sederhana. Tidak ada konflik yang terlalu hiperbolis seperti film-film remaja jaman sekarang. Tapi justru itulah yang kusuka dari film ini. Lebih relatable sama kehidupan kita. (Ada adegan dimana teman-teman Milea datang ke rumah Milea dan dijamu dengan buah jambu biji. Simply thing but nostalgic. Jadi keinget jaman sekolah, suka main ke rumah temen trus metikin  jambu biji bareng-bareng di rumahnya. Ups!)  

Dibanding cerita, tokoh Dilan yang menjadi daya tarik utama film ini. Nggak heran, deh kalau belakangan sosmed kita ramai dengan gombalan-gombalan Dilan. (Malah jangan-jangan nanti ada yang jual kerupuk Dilan segala) Sayang, karakter Dilan yang unik ini tidak didukung dengan latar belakangnya yang memadahi. Kenapa bisa unik seperti itu? Apakah sifatnya menurun dari orang tuanya? Bagaimana pola asuhnya? Kenapa dia suka berantem? Kurang tergambarkan dalam film.

Selebihnya film ini oke banget, sukses bikin aku senyum-senyum sendiri begitu keluar dari bioskop. Dan rada baper juga sih karena nggak ngajak pasangan (Sementara penonton lain yang kebanyakan anak SMA dateng berpasang-pasangan). 

Trus kalau ditanya, kira-kira nanti mau nonton nggak kelanjutannya, Dilan 1991? Absolutley yes. I can’t wait for it!

  

4 komentar:

  1. Iya nih, aku amaze bisaan rim produksi bikin setingan 90annya. Walau rada bocor dikit, sih hahaha. Gaya bahasa Dilan emang aneh, ya. Tapi itu yang bikin unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bangeett.. Brhasil lh pkoknya bikin baper cewek2

      Hapus
  2. Kubelum nonton kak baca novelnya juga belum hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jgn nonton kak nnti baper 😅 Aq baru baca novel pertamanya

      Hapus